Sabtu, 09 Oktober 2010
Minggu, 12 September 2010
i miss you, my besties :)
I remember with all crazy things about us.
I miss when walk away to school, and pick you first.
then you would say, "wait, i want pup"
and it makes me very annoyed.
The most ridiculous thing is, when there is a monkey that greets you when you wake up. Hahahaha, That's silly!
after that, monkeys playing your neighbor's car. you always said, he so handsome !
HAHA LOL!
very long time
so many things I want to tell you.
you miss me?
I miss you, Riri.
really miss YOU.

dedicate for my besties, Riri triana...
PS: I LOVE YOU..
Sabtu, 11 September 2010
Senin, 30 Agustus 2010
"Blue"
Minggu, 15 Agustus 2010
POHON, DAUN, DAN ANGIN (BADAI)

"Daun itu jatuh karena 2 alasan: pertama, karena pohonnya tidak bisa memegang erat daun itu hingga dia gugur dari pohonnya.. kedua karena angin yg meniup begitu kencang hingga daun itu tak berdaya dan lepas"
saya mengutip dari salah seorang teman baik saya. saya tambahkan lagi,"Ketiga karena daun nya sudah tua, kering, dan rapuh, maka mau tidak mau ia harus lepas dari pohon"menghela nafas.
antara lega dan rasa bersalah..



****
saya berada dalam satu titik kejenuhan.
semua terlihat indah dari luar. ya.. memang indah.tapi ada satu masalah, ada duri dalam daging. ada duri yang yang menusuk dari dalam. tidak mematikan memang, tapi mengganjal. sesekali duri itu menusuk daging saya. perih. tp sulit dikeluarkan.semakin saya bergerak, duri itu akan semakin masuk kedalam daging saya.dan membuat saya sakit terus-terusan.
ada masalah yang tidak pernah ada solusi.
egois dan temperamen. itu "tabiat" dari kita, kami, aku dan dia
pada satu masa, ketika waktu kita berdua berkurang, sibuk dengan visi dan misi sendiri...
saat itulah angin kencang mulai datang.
***
hari kemarin, saya bisa berpegangangan. karena angin nya tidak kencang. saya tidak membutuhkaan bantuan untuk bertahan. masalah kecil.
tapi berbeda kali ini.duri sudah masuk kedaging saya terlalu dalam. saya tidak bisa mengeluarkan nya. saat itulah datang seseorang,seseorang yang memperhatikan saya. sesorang yang pandangan nya tidak pernah lepas dari saya. seseorang yang sudah tau saya "harta" bagi orang lain.
tapi dia buta. sengaja buta. dia berusaha menutup mata jika saya sudah dimiliki orang lain.
entah setan apa yanng merasuk waktu itu, melihat harapan dari matanya, saya merasa ingin memberi sedikit celah agar dia bisa mengenal saya. hanya kesempatan untuk mengenal saya...
**
"I just want to tread water, but I fell too deep.."
mungkin itu istilah yang tepat.
hmm... saya hanya bermaksud menginjak air, tapi malah jatuh terlalu dalam..
yap..
saya sudah terlibat terlalu jauh. celah yang saya beri untuk mengenal saya, berubah menjadi harapan bagi orang itu.
harapan yang terus dipupuk menjadi mimpi bagi nya. mimpi untuk memiliki saya. mimpi untuk bisa menyeret saya dari pohon dan membawa saya pergi. kemana ia mau..
disaat itu saya mulai tersadar. angin begitu kencang berhembus. seperti badai.


pohon memohon. menagis agar saya tetap bersama nya. tetap menjadi daun nya, karena saya daun yang melengkapi nya. pohon tampa daun itu sangat menyedihkan.kering dan hampa.
angin masih berhembus terlalu kencang. bukan angin tapi badai.
saya daun, masih berpegangan kuat dipohon saya. berharap dia memegang saya.
tapi pohon saya ingin menyerah. dia sudah sangat rapuh...
saya nyaris terseret. jika saya terserat angin lalu jatuh ketanah dengan segala tepuk tangan dan sorai-sorai orang yang menghujat saya.
"RASAKAN ITU, DASAR DAUN LEMAH! MUDAH TERSERET ANGIN. HAHAHAHA!"
saya akan musnah.
TIDAK RELA! jika begini saya akan jadi arwah gentayangan. gentayangan dan menyedihkan. menyedihkan dengan semua penyesalan..
kalaupun saya harus mati, saya ingin mati terhormat.
kalaupun saya harus berpisah dengan Pohon saya , saya ingin banyak yang menagisi saya...
tidak seperti ini.
***
saya tidak bisa meninggalkan pohon saya begitu saja.pohon yang menjaga saya. yang memberi saya hidup melalui tubuh nya.hanya karena badai sesaat.
kencang memang, tapi saya harus bertahan...
harus bertahan demi pohon. pohon yang juga nyaris tumbang karena badai yang kencang.
SAYA HARUS MELAWAN BADAI ITU. KARENA DIA TIDAK BERHAK MERENGGUT HIDUP SAYA.
**
finally , saya bertahan.
badai sudah saya lewati. saya masih bersama pohon saya yang sudah nyaris tumbang.
tapi saya bahagia. kalaupun pohon dan daun sudah tua dan rapuh. sebaik nya kita jatuh ketanah bersama..
bukan karena badai.



Jumat, 23 Juli 2010
I LOSE YOU , MY HERO...

Kamis, 15 Juli 2010
Feature for Radar Jogja :)
.jpg)
Tedjo Badut, Senang Bisa Membuat Orang Tertawa
Tedjo Badut, Badutnya Jogja. Membuat acara lebih meriah! Jargon itulah yang selalu melekat pada diri Sutedjo, yang kemudian akrab dengan nama Tedjo ini. Di setiap acara di Jogja, Tedjo selalu hadir dengan beragam hiburan yang dibawanya, kadang sulap, kadang wayang orang, kadang menjadi pembawa acara. Namun setiap kehadirannya, pasti para penonton terhibur. Seniman ini memang serba bisa, rupanya, memang sejak kecil talenta ini terbentuk.
Tedjo lahir di Purworejo, 18 Agustus 1960. Ia lahir dan besar dari lingkungan seni. Ayah dan ibunya merupakan seniman seni peran, lebih tepatnya seniman wayang orang yang kehidupannya selalu berpindah-pindah dari
”Saya bingung ketika ditanya, asalnya mana, aslinya mana, lahir di mana. Saya jawab saya asli Jogja, tetapi lahir di Purworejo. Di
Karena selalu mengikuti kedua orang tuanya, mau tidak mau Tedjo pun hidup berpindah. Tak terhitung berapa kali ia harus keluar masuk sekolah. Namun dari kehidupan itulah ia mengenal seni yang membuat orang tuanya hidup. Hidup di lingkungan seni membuat Tedjo sangat akrab dengan dunia seni peran. Dia mulai mengenal seni tari, teater, cara mengibur orang, dan berdandan dengan make up untuk memerankan suatu tokoh tertentu.
”Pernah dulu sekolah di Jogj, terus ke
Memasuki tahun 70-an, pentas wayang orang mulai mengalami goncangan dan pelan-pelan ditinggalkan penontonnya. Ia pun mulai pindah ke kelompok Ramayana Ballet di Purawisata. Namun di
“Padahal kehidupan ekonomi semakin tinggi, kenyataannya memang butuh penambahan pendapatan. Apalagi setelah menikah dan memiliki anak tanggung jawab lebih besar lagi,” katanya suami dari Darsih ini.
Berangkat dari situlah ia mulai memutar otak untuk mencari tambahan bagi biaya hidupnya dan anak istrinya. Dengan skill yang dia miliki ia pun mulai merambah ke dunia entertain yang lebih dinikmati orang jaman sekarang. Dia melihat celah bahwa di Jogja sangat jarang hiburan untuk anak-anak.
”Di Jogja sangat banyak jenis hiburan. Mulai dari yang tradisional, hingga hiburan modern. Namun saya lihat, segmen untuk hiburan anak masih sangat jarang, porsinya untuk ABG (Anak Baru Gede-red) dan orang dewasa saja. Untuk perkembangan anak sendiri kurang bagus,” ujar ayah dua putri ini.
Badut yang selama ini ia perkenalkan adalah badut impor, dengan hidung merah dan wajah yang putih. Tetapi ia juga bisa menjadi ‘badut’ di dunia seni tradisional, apalagi ia sering berperan menjadi salah satu Punokawan.
“Punokawan itu
Badut Bermuatan Pendidikan
Beraksi sebagai badut pengibur tidak begitu sulit bagi Tedjo, mengingat latar belakangnya yang sering pentas wayang orang serta berlaku jenaka menghibur penonton. Itu sudah cukup menjadi bekalnya memasuki dunia hiburan diluar seni peran.
Di kalangan teman-temannya, Tedjo memang dikenal sebagai pribadi yang ramah, pencair suasana dan jago ndagel. Sejak mengenyam bangku sekolah ia juga sangat aktif mengisi acara Agustus-an, Kartini-an, dan acara-acara seni sekolah pada waktu itu.
Sepenggal cerita Tedjo ketika duduk di bangku SMP, ia sering menggegerkan sekolah dengan ulahnya berkreasi dengan make up.
”Pernah saya memerahkan leher saya, karena melihat teman-teman saya merah juga lehernya. Saya kira sedang nge-tren yang seperti itu, jadi saya ikut-kutan memerahkan leher pakai lipstik. Guru pun memanggil saya karena hal itu, dikira saya macam-macam, ketika saya menghapus warna merah itu guru tidak jadi marah, dan malah tertawa,” ujarnya sembari tertawa mengingat kejadian itu.
Tejdo tampil sebagai badut sekitar tahun 90-an. Dengan berprofesi menjadi badut, selain dapat menghibur anak-anak, ia bisa menyisipkan muatan-muatan pendidikan. Apalagi dalam dunia anak-anak, badut kadang menjadi sosok yang menyeramkan.
“Terkadang anak-anak takut dengan orang-orang abnormal, seperti orang yang terlalu besar, terlalu tinggi, perut buncit, bahkan tidak sedikit anak-anak yang takut dengan badut. Di sini saya mencoba memberi tahu mereka, melalui sosok badut yang buncit, atau badut jangkung yang menggunakan enggrang, bahwa sosok itu juga manusia yang tidak berbahaya. Jadi tidak perlu ditakuti,” lanjut pemilik kuncir ini.
Ia selalu memperlihatkan apa yang dikenakannya cuma buatan, sehingga anak-anak mengerti dan tidak perlu takut lagi dengan sosok-sosok abnormal yang sering ia perankan. Misalnya jika ia menjadi sosok orang tinggi, ia akan memperlihatkan enggrang yang dipakainya agar anak-anak tahu itu hanya buatan.
Namun, tetap saja resiko pun kerap kali menghadang sepanjang karirnya sebagai entertainer. Misalnya saja ketika ia beraksi sebagai badut engrang, ataupun ketika tengah menghibur anak-anak dengan kostum tokoh tertentu.
”Pernah kostum saya robek ketika saya sedang melakukan pendekatan dengan anak-anak agar tidak takut dengan kostum tokoh tertentu. Itu tidak masalah bagi saya, yang penting apa yang saya lakukan bisa menghibur dan menjadi pengalaman yang tidak nakutin bagi mereka,” ungkapnya. (isa/Minati Arta)
Keseimbangan Berkesenian
Dalam aksi badutnya, Tedjo selalu menyisipkan aksi sulap. Mengenai aksi sulap yang ia mainkan, ia menggunakan trik yang cukup gampang apalagi, peralatannya ia membuat sendiri. Jarang sekali ia membeli peralatan sulap, selain harganya mahal juga untuk kreativitasnya sendiri sebagai entertainer.
Sulap yang ia mainkan bukanlah sulap yang mengandung magic seperti yang dikira orang. Menurutnya sulap itu ilmiah, bukan magic. Sehingga ia pun banyak menggunakan teori dalam membuat alat sulapnya. Misalnya teori Fisika, naik turun sebuah benda menggunakan tali, dan lain sebagainya.
Banyak pengalaman yang ia dapatkan sebagai seorang entertainer. Misalnya baru-baru ini ia menghibur anak-anak SLB (Sekolah Luar Biasa). Sebagai seorang entertainer, ia pun harus mencari cara untuk bisa membuat para siswa SLB ini tertawa.
”Jika menghadapi anak-anak tuna netra, maka saya harus mampu memainkan kata agar menarik perhatian sekaligus menghibur mereka. Lain lagi kalau menghadapi anak-anak tuna rungu, maka saya juga harus lebih menekankan gerak tubuh dan mimik wajah agar mereka mengerti apa yang saya sampaikan,” kata ayah dari Mulyaningtyas dan Murniyati ini.
Meski Sutedjo hidup dari aksi-aksi entertainernya, ia tetap tidak melupakan asal-muasalnya yang berangkat dari seni wayang orang. Hingga saat ini, ia masih aktif tampil dalam pentas wayang orang. Dalam pentasnya, ia lebih sering memainkan peran-peran penghibur yang jenaka seperti Gareng atau Bagong.
”Saya tidak akan melupakan dari mana saya berasal. Saya lahir dan tumbuh di dunia seni peran, wayang orang. Maka sampai kapan pun, saya akan tetap memberikan dedikasi bagi dunia itu, namun tetap dengan kapasitas dan talen yang saya miliki, yaitu sebagai penghibur,” ujarnya.
Sepanjang karir nya, banyak sekali suka duka yang dihadapi. Namun dengan jam terbang yang tinggi membuat semua kendala bisa teratasi. Ia pun tidak pernah kehilangan ide untuk selalu membuat orang tertawa. Sehingga ia pun bisa menikmati pekerjaannya sebagai penghibur.
Di sini ia mendapatkan kepuasan jasmani dan rohani karena ia memadukan antara hati dan pikirannya agar tercipta suatu keseimbangan.
”Dari segi jasmani, saya bisa mendapatkan materi untuk menghidupi anak istri saya. Bahkan anak-anak saya bisa sampai ke jenjang perguruan tinggi. Sedangkan dari segi rohani, saya sangat senang bisa menghibur dan menyenangkan orang lain,” ujarnya.
Hal tersebut sesuai dengan motonya yaitu ‘pusatkanlah hati dan pikiran sehingga menjadi sesuatu keseimbangan’. (isa/Minati Arta)


